Majukan Berkesenian Dan Budaya Melalui Kemitraan Perusahan Di Kutim

oleh -279 Dilihat
oleh

Keterangan foto : PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL), melalui anak usahanya PT Subur Abadi Plantations (SAP), turut perhatikan tradisi tarian suku khas Dayak di Kutim

Detakborneopost, Kutai Timur –  Melalui PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL), melalui anak usahanya PT Subur Abadi Plantations (SAP), menjadi bagian dari perjalanan pelestarian budaya sebagai mitra sanggar tari di Desa Long Melah Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur

“Program ini kami lakukan sejak perusahaan kami berada di wilayah ini (Kecamatan Telen). Jadi, komitmen kami untuk membantu warga lokal melestarikan budaya nenek moyangnya,” ucap Administratur PT SAP, Muhammad Abdus Syukur, saat di wawancarai via ponselnya, Selasa (2/12) 2025.

Dia menyebutkan warisan budaya harus terus dijaga dengan kesungguhan dan semangat. Di tengah laju pembangunan dan modernisasi yang kian cepat masyarakat adat di desa tersebut tidak kehilangan pegangan pada akar tradisinya.
Pihaknya juga berkomitmen terhadap pelestarian budaya lokal telah menjadi bagian dari nilai perusahaan sejak pertama kali beroperasi.

Menurutnya, tanggung jawab perusahaan, bukan hanya soal lingkungan tetapi juga mencakup penguatan sosial dan budaya.

“Keberadaan kami harus memberikan makna bagi masyarakat termasuk dalam menjaga identitas budaya yang telah lama mengakar,” terang Muhammad Abdus.

Muhammad Abdus mengungkapkan komitmen itu bukan hanya disampaikan tetapi diwujudkan dalam bentuk kemitraan jangka panjang dengan masyarakat.

Sanggar tari di desa tersebut menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan yang berkelanjutan. Dukungan diberikan tidak dengan pendekatan satu arah tetapi dengan semangat kolaborasi sebagai mitra budaya yang berjalan beriringan dengan komunitas adat.

PT SAP percaya bahwa membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar area operasi adalah hal penting dalam sebuah proses menjadi perusahaan kelapa sawit yang berkelanjutan. Astra Agro berkomitmen untuk selalu menghormati hak-hak masyarakat adat dan lokal setempat.

Sementara itu, Salah satu tokoh dalam pelestarian budaya di Desa Long Melang yakni Wasti Pai, seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun, menjelaskan program pelestarian budaya melalui tari-tarian terus berjalan tanpa tergerus zaman.

Melalui sanggar Tari Lingga Jalung milikinya, Wasti Pai menanamkan rasa cinta budaya kepada anak-anak Dayak Kayan di desa tersebut.
“Kami sudah membina tari-tarian di sini sejak tahun 2000. Sanggar tari ini melatih anak-anak usia delapan hingga lima belas tahun dengan tari-tarian yang diajarkan yakni tarian asli dayak, tarian kreasi, hingga tarian lainnya,” ungkapnya.

Bagi Wasti kehadiran perusahaan memberi ruang dan energi baru dalam upaya pelestarian. Bantuan serta dukungan, selalu diberikan PT SAP dalam keberlangsungan sanggar tari tersebut.


“Ketika PT Subur Abadi Plantations hadir di Long Melah, kami kemudian masuk dalam program binaan perusahaan,” katanya.

Dia mengungkapkan dukungan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan operasional dan perlengkapan tari tetapi juga penghormatan terhadap nilai budaya itu sendiri.

“Ini bukan sekadar bantuan, melainkan bentuk pengakuan dan penguatan terhadap jati diri komunitas adat,” katanya.

Wasti menambahkan, dengan sinergi yang terbangun antara masyarakat adat dan perusahaan, Sanggar Tari Lingga Jalung tidak hanya menjadi pusat pelatihan gerak seni, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya semangat dan kebanggaan akan warisan budaya lokal.(adv/Diskominfo Staper Kutim)