Kisah Sepanjang Perjalan Karier Guru Miss Ririn Mengajar Di Muara Wahau

oleh -363 Dilihat
oleh

Keterangan foto : Di hari Guru Nasional tampak miss Ririn menerima penghargaan dari Bupati Kutim H Ardiansyah Sulaiman

Detakborneopost.com, Kutai Timur – Pemerintahan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutim, patut berbangga dan mengapresiasikan, pengabdian, sumbangsih, dedikasi dan integritas tinggi terhadap profesi guru, hal ini yang dimiliki seorang pengajar Siti Fajjarina, atau akrab disapa Miss Ririn.

Untuk dapat turun mengajar menuju ke sekolah harus melalui berbagai medan bahkan melintasi area perkebunan sawit di Kecamatan Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Apapun kondisinya sekalipun menghadapi berbagai rintangan tak mematahkan semangat pahlawan tanpa tanda jasa dari kaum hawa, Miss Ririn untuk tetap turun mengajar para muridnya

Impian menjadi seorang guru sudah menjadi cita-citanya sejak kecil.rasa optimis yang tinggi sebelum menjadi sejatinya tenaga pendidik, ia mengawali dengan menempuh ilmu akademisi keguruannya dengan berkuliah di universitas ternama ibu Kota Jakarta

“Saya memang ingin mengajar di pelosok, karena merasa bisa lebih berguna di sana,” ujar Ririn saat diwawancarai, Rabu (03/12) 2025.

Ririn mengisahkan disaat diterima dan ditempatkan sebagai guru di Kabupaten Kutim, bersamaan dengan itupula lolos seleksi program SM3T untuk mengajar di NTT.

Akan tetapi pengabdian tulusnya lebih memilih menjadi guru di sekolah milik perusahaan kelapa sawit di Muara Wahau. Setelah menimbang, ia memilih menetap di Muara Wahau agar dapat mengabdi lebih lama kepada anak-anak di daerah terpencil.

Ia menyampaikan pengalamannya sepanjang menjadi guru tentulah tidak pernah mudah. Ririn harus menghadapi tantangan besar seperti keterbatasan fasilitas dan ketimpangan kemampuan belajar siswa.

Namun kesemua itu tak membuatnya putus asa, pantang menyerah dalam mewujudkan sarana pembelajaran sendiri dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

Adapun skill latar mata pelajaran yang dipegangnya sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

“Saya walau dibidang IPS akan tetapi  juga mengadakan kelas tambahan secara sukarela untuk pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris serta menginisiasi program matrikulasi untuk membantu siswa yang tertinggal,” beber Ririn

Ririn percaya semua anak punya potensi, hanya butuh pendekatan yang tepat.
.
Di tengah kelelahan dan sempat kehilangan motivasi, Ririn menemukan semangat baru lewat program Guru Penggerak.

Program ini membukakan mata dan hatinya bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar di kelas tapi berkontribusi dalam ekosistem pendidikan secara luas.

Sebagai guru penggerak, Ririn aktif membagikan ilmunya kepada sesama guru, menjadi narasumber pelatihan, hingga mengikuti berbagai kompetisi pendidikan. Filosofi Ki Hajar Dewantara menjadi dasar dalam setiap inovasinya, berpihak pada murid dan menggali potensi unik setiap individu.

Salah satu momen paling membekas bagi Ririn yakni saat ia menerapkan pembelajaran diferensiasi berdasarkan kesiapan belajar. Awalnya ragu, namun hasilnya mengejutkan, siswa yang selama ini dianggap lemah justru menunjukkan kemajuan signifikan saat diberi ruang belajar yang sesuai dengan kemampuannya.

“Selama ini mereka bergantung pada teman yang lebih pintar. Saat diberi ruang sendiri, mereka justru tumbuh,” terangnya.

Tidak hanya siswa, komunitas sekolah pun ikut berubah. Guru-guru mulai melihat anak bukan hanya dilihat dari nilai akademik. Siswa yang dulu minder kini tampil percaya diri di ajang olahraga dan seni bahkan mewakili sekolah hingga tingkat provinsi dan nasional.
Pada momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Ririn menyampaikan harapannya agar pendidikan di Kutim terus konsisten dan bahkan bisa lebih maju lagi.

“Meski di pelosok, kami bisa bersaing. Anak-anak kami punya potensi besar, mereka hanya perlu diberi kesempatan yang sama,” tegasnya.

Ririn menyampaikan harapan untuk kurikulum Indonesia agar lebih konsisten, agar guru dan siswa tidak terus-menerus terdampak oleh perubahan kebijakan yang mendadak.
Sementara, kepada para guru muda, Ririn berpesan agar tetap teguh dan tidak gentar menghadapi keterbatasan.

“Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan jiwa. Di tempat-tempat terpencil, kehadiran kita bisa menjadi cahaya yang menerangi masa depan mereka,” tutup Ririn (adv/Diskominfo Staper Kutim)